Masyarakat mengapresiasi PUPR Provinsi NTB atas perbaikan infrastruktur jalan di kecamatan Sanggar Kabupaten Bima

Uncategorized415 Dilihat

Bin News- Masyarakat kabupaten Bima Kecamatan Sanggar merasa bersyukur atas kebijakan dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui dinas PUPR terkait mengalokasikan anggaran untuk perbaikan jembatan yang rusak karena dimakan usia.

Dengan terealisasinya pekerjaan perbaikan jembatan itu maka arus lalu lintas bisa lancar setiap hari.

Berbagai macam kendaraan roda dua , roda empat dan truk tidak mendapat hambatan disaat mengangkut barang yang merupakan hasil usaha seperti bawang merah, kacang, ikan,kayu dan masih ada lagi yang lain.

Para tunas bangsa yang sedang menimba ilmu pengetahuan dibangku Sekolah dasar, Sekolah Menengah pertama dan Sekolah Menengah Atas tidak merasa ragu lagi disaat melewati jembatan yang beralaskan batang pohon kelapa dan tanah urukan selama beberapa bulan.

Advertisements

Harapan masyarakat tentunya agar pekerjaan perbaikan jembatan bisa terealisasi dengan baik dan lancar sebelum musim hujan tiba karena dampak negatifnya tidak sedikit.Sebut saja pertama, arus lalu lintas bisa terganggu karena tidak maksimal pembuatan jalan alternatif.Kedua, realisasi kerja proyek tidak bisa rutin.

Demikian hasil pantauan awak media sejak Jembatan itu dibongkar sampai berita ini diturunkan.

Pada tahun 1973 mulai membangun jembatan utama yang menghubungkan desa Kore dan desa Sandue yang berlokasi diwilayah Kecamatan Sanggar, Setiap hari roda dua dan roda empat senantiasa melewati jembatan tersebut namun tidak mengganggu sikon badan jembatan yang berusia mencapai kurang lebih 50 tahun.

Akan tetapi puluhan truk yang mengangkut kayu, jagung dan bawang merah yang melintasi jembatan tersebut membuat badan jembatan mengalami gangguan karena berat muatan truk tidak sebanding dengan kekuatan badan jembatan.

Dampak dari pada itu maka pada tanggal 11 Agustus 2021 jembatan tersebut terlihat berlobang beberapa titik dibadan jembatan sebagai tanda akan ambruk.

Melihat keadaan yang demikian maka Penguasa wilayah Kecamatan Sanggar memberikan informasi kepada penguasa wilayah Kabupaten terkait keberadaan jembatan yang rusak.

Advertisements

Selanjutnya pihak Pemda Kabupaten Bima menginformasikan lagi kepada Pemerintah Propinsi melalui dinas terkait.

Berkat jalinan kerja sama yang baik maka Juli 2022 pihak PUPR Propinsi Nusa Tenggara Barat turun kelokasi untuk mengadakan riset sebelum mengerjakan jembatan tersebut.

Setelah riset dinyatakan selesai maka pihak PUPR Propinsi Nusa Tenggara Barat membawa peralatan untuk memulai kegiatan awal tetapi sayang rencana mengerjakan jembatan yang rusak itu tidak bisa diteruskan lagi karena belum tersedia jalan alternatif.

Oleh karena pihak PUPR Propinsi Nusa Tenggara Barat tidak bisa merealisasikan pekerjaan Jembatan yang rusak karena belum tersedia jalan alternatil maka Pemerintah Kecamatan Sanggar mencari alternatip lain agar jembatan tetap bisa dilalui oleh kendaraan umum karena dituntut oleh kebutuhan lalu lintas.

Langkah yang ditempuh adalah memakai batang kelapa dan tanah urukan.

Setelah kebijakan itu ditetapkan oleh penguasa wilayah Kecamatan bersama steakholder maka bersatu padulah Pemerintah Kecamatan, satpol PP, aparat Polsek Sanggar, Danpos Ramil Sanggar dan beberapa oknum warga desa Kore dan oknum warga desa Sandue.Jalinan kerja sama mereka tak ubahnya dua keping mata uang logam. Sekalipun belahan yang satu berbeda dengan belahan yang lain namun selalu memperkuat selama merealisasikan aktivitas.

Advertisements

Mas-ud Ahmad, S.Sos saat itu sebagai kepala Satpol PP dan kini sebagai kasi Trantip Kecamatan Sanggar patut mendapat acungan jempol terkait kepeduliannya , disaat hujan gerimis dan panas mencekam tetap berjuang berkordinasi dengan warga untuk mendapatkan pohon kelapa sebanyak 36 batang dan tanah timbunan untuk kebutuhan badan jembatan.Dia juga mengajak warga untuk menebang dan mengangkut batang kelapa tersebut dengan truk kemudian dibawa ke lokasi jembatan.

Kebijakan yang diambil itu membuahkan hasil juga tetapi tidak bisa bertahan lama karena kekuatan jembatan tidak sebanding dengan beratnya muatan truk yang mengangkut kayu, jagung dan bawang merah.

Akibat dari pada itu maka badan jembatan berangsur – angsur rusak dengan ditandai oleh adanya tanah uruk yang menipis dan badan jembatan sedikit bergoyang disaat dilintasi oleh truk.

Melihat situasi dan kondisi jembatan yang demikian maka pihak Pemerintah Kecamatan Sanggar langsung menyampaikan kepada Pemkab Bima dan Pemprov NTB untuk segera membangun jembatan yang baru karena jembatan itu sangat dibutuhkan oleh warga Sanggar dan Tambora.

Masyarakat setempat mengucapkan Alhamdulillah tahun 2023, jembatan Kore – Sanggar dibangun baru oleh Pemprov NTB dengan anggaran RP 3.765.741.000.

Kami mewawancarai bapak M.Yamin Husen atau akrab dipanggil Wiro sebagai pelaksana di proyek Jembatan tersebut disaat dikonfirmasi awak media dilokasi proyek pekan lalu mengatakan proyek jembatan itu mulai dibongkar 2 Agustus 2023.

Proyek tersebut merupakan program kerja dari dinas PUPR Propinsi Nusa Tenggara Barat.Perincian yang tertulis dipapan informasi publik yaitu pertama, pekerjaan : Penggantian jembatan Kore Kenu/ Sanggar pada ruas jalan Piong – SP.Kore.Kedua, nomor kontrak : 630/ 561/KTT/ DAK/PK/JBT Kore Kenu – Sanggar/2023.Ketiga, tanggal kontrak : 15 Juni 2023.Empat,nilai kontrak RP 3.765.741.000.Lima, tahun anggaran : 2023. Keenam, masa kerja : 195 hari.Ketujuh, kontraktor pelaksana : PT.Bima Agregat Mandiri. Kedelapan, konsultan supervisi : PT.Wastu Anopama.  Ungkap M.Yamin

Pada hari yang sama, Aldi jabatanya Surveyor mengatakan bukan hanya jembatan yang dikerjakan tetapi ruas jalan juga diaspal karena sudah ada program kerja yang telah ditetapkan oleh pihak pelaksana. Disebelah barat jembatan tepatnya antara kantor Camat Sanggar dan kantor Post diaspal sepanjang 125 meter.Sedangkan disebelah timur jembatan diaspal juga sepanjang 100 meter.”Totalnya 225 meter kalau tidak ada perubahan”, ujarnya.

Catatan spesial awak media, mulai tanggal 12,13,14,15,16,17 Agustus 2023 tidak terlihat personil yang mengerjakan proyek jembatan.Semua peralatan berat tidak ada satupun yang berada dilokasi proyek padahal masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Dampak dari itu maka salah seorang warga desa Kore,Sarif Ismail melampiaskan rasa kesalnya seperti bunyi redaksi dibawah ini.

Dia mengatakan dirinya merasa kecewa melihat cara kerja proyek jembatan yang tidak rutin aktivitasnya padahal proyek itu merupakan program kerja PUPR Propinsi Nusa Tenggara Barat.Cara kerja seperti itu bukan bersifat mendidik tetapi menciptakan kesan yang berbau tidak sedap ditengah masyarakat.

Bukan pelaksana harian yang pasip tetapi patut diduga kebijakan dari managemen tingkat atas yang perlu ditinjau kembali.(SP.02).Edisi 16 Agustus 2023. Ungkap . M. YAMIN

0Shares
Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-8902779777952560, DIRECT, f08c47fec0942fa0