PENGUATAN KARAKTER DAN PENGEMBANGAN SOFT SKILLS DALAM KURIKULUM MERDEKA

Berita, Nasional1064 Dilihat

Pendahuluan

Kurikulum merdeka adalah salah satu terobosan dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Kurikulum ini lebih mementingkan kebutuhan peserta didik saat melakukan pembelajaran. Oleh karena itu guru atau tenaga pengajar dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan dari peserta didik. Pada kurikulum ini memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk melakukan pembelajaran. Dalam tahap ini guru menjadi fasilitator untuk mendukung pembelajaran tersebut. Dalam penerapan kurikulum mereka ini penting untuk mengetahui soft skills yang akan ditanamkan seperti kemapuan berkomunikasi, kerjasama tim, mandiri, mampu beradaptasi dan pengorganisasian yang baik.

  Keseimbangan antara kemampuan akademis teknis dan pembentukan sikap menjadi penting dalam kurikulum pendidikan. Maka dalam kurikulum merdeka ini penguatan karakter dan Penguatan Karakter dan Pengembangan soft skills menjadi perhatian penting misalnya melalui metode PjBL dan proyek penguatan profil pelajar pancasila (P5). Kurikulum merdeka ini merupakan kurikulum pembelajaran intrakurikuler yang beragam yang mana penerapannya bersifat optional sehingga sekolah memiliki pilihan untuk menerapkan kurikulum merdeka ini.

 

Pendidikan Berbasis Penguatan Karakter dan Penguatan Karakter dan Pengembangan soft skills 

Pentingnya pendidikan berbasis karakter dan soft skills didasari oleh pemikiran bahwa kesuksesan bukan hanya  berasal  dari keterampilan teknis (hard skill) melainkan yang paling penting adalah keterampilan lunak (soft skills) atau keterampilan berhubungan dengan orang lain (people skills). Sebenarnya yang diinginkan oleh pendidik maupun pengguna lulusan atau masyarakat luas yaitu lulusan yang memiliki pengetahuan luas, keterampilan menggunakan ilmunya di dunia kerja serta berperilaku menurut etika dan norma yang berlaku di masyarakat. Jadi selain memiliki pengetahuan dan teknologi di bidangnya, siswa didik diharapkan menjadi manusia yang kaya potensi, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berahlak mulia. Dalam sistem pendidikan berbasis soft skills, sekolah dituntut dapat memberikan pembinaan kepada siswa didik sejak dini untuk melakukan proses pembelajaran (learning process) yang berwawasan kognitif (hard skills) yang menunjukkan hasil (outcomes) yang dapat menjawab kebutuhan pengguna jasa (stakeholders) dan mempunyai kemampuan untuk menciptakan kerja (enterpreunership), sehingga kualitas siswa didik dan lulusan yang dihasilkan sesuai dengan harapan dan permintaan pasar. melalui pengembangan potensi siswa didik yaitu; Student need (kebutuhan), Student interest (minat) dan student walfare (kesejahteraan).

Soft skills didefinisikan sebagai ”Personal and interpesonal behaviors that develop and maximize human performance (e.g. coaching, team building, initiative, decision making etc.) “Soft skills does not include technical skills such as financial, computing and assembly skills“. Soft skills adalah ketrampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain termasuk dengan dirinya sendiri (Illah Sailah, Direktorat Kelembagaan DIKTI: 2008). Atribut soft skills, dengan demikian meliputi nilai yang dianut, motivasi, perilaku, kebiasaan, karakter dan sikap. Atribut soft skills ini dimiliki oleh setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda, dipengaruhi oleh kebiasaan berfikir, berkata, bertindak dan bersikap. Namun, atribut ini dapat berubah jika yang bersangkutan mau merubahnya dengan cara berlatih membiasakan diri dengan hal-hal yang baru.  Apakah mudah atau tidak? Kalau tidak dimulai dengan kesadaran lantas mau untuk berubah.

 

 Model pembelajaran yang dikembangkan di sekolah selama ini masih besifat teacher centered, padahal isu model pembelajaran mutakhir diharapkan bergeser pada student centered learning, di mana siswa didik diharapkan aktif mengkonstruksikan ilmu pengetahuan sehingga penekanannya bukan lagi berpusat pada guru melainkan pada bagaimana suatu pekerjaan dikerjakan. Diharapkan melalui pendekatan ini akan memunculkan kompetensi seperti kemampuan berkomunikasi, kerjasama, berpikir analitis dan kritis, kreatif dan kemampuan manajemen waktu dengan metode problem based learning (studi kasus), metode self acquired process (siswa didik aktif) untuk meningkatkan kemampuan berpikir analitis, mengembangkan kepribadian dan cara berpikir berkualitas serta meningkatkan kearifan. dan metode lainnya.

 

Institusi sekolah merupakan lembaga yang diharapkan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang siap untuk berkembang baik dalam bidang praktis maupun akademis dengan bekal soft skill yang cukup. Kemampuan praktis, bekal pengetahuan yang relevan dengan lapangan kerja dan soft skill perlu diberikan kepada para siswa didik sehingga pada saat lulus sudah siap dengan pengetahuan dan ketrampilan untuk memecahkan persoalan yang ada di masyarakat. Kemampuan tersebut merupakan hasil akumulasi proses yang simultan dari berbagai kegiatan pembelajaran yang berlangsung secara berkesinambungan. Jadi pengetahuan soft skill tidak lain adalah kemampuan seseorang untuk bisa beradaptasi dan berkomunikasi dengan baik pada lingkungan dimana dia berada. “Ini penting, karena banyak para lulusan sekolah ketika diminta berbicara, menyampaikan ide atau gagasan serta mempresentasikan karyanya, tidak siap. Dalam manajemen modern ditemukan bahwa suksesnya seseorang tidak hanya ditentukan dari kecerdasan semata, tapi juga soft skill yang dimiliki. Tenaga pengajar berperan penting dalam konteks ini, di mana akan menjadi ujung tombak keberhasilan pengembangan soft skill siswa didik.

 

Implementasi Pembelajaran Berbasis Penguatan Karakter dan Soft skills

 Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berahlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, kreatif, dan bernalar kritis sesuai dimensi profil pelajar pancasila dalam kurikulum merdeka. Pendidikan berbasis penguatan karakter dan Penguatan Karakter dan Pengembangan soft skills dapat menjadi solusi pendidikan cerdas dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional kita. Penguatan karakter dan pembangan soft skills di sekolah dapat dilakukan melalui kegiatan proses pembelajaran dan juga kegiatan kesiswaan dalam kegiatan ekstra kurikuler atau ko-kurikuler. Hal yang terpenting, soft skills ini bukan bahan hafalan melainkan dipraktekkan oleh individu yang belajar atau yang ingin mengembangkannya. Pada saat siswa didik ingin mengembangkan minat dan bakatnya di dalam bidang olah raga umpamanya, acapkali pembimbing kegiatan olah raga senantiasa berpusat pada teknik bagaimana memenangkan pertandingan yang akan dilakukan oleh siswa didiknya. Tidak sedikit yang tidak mengindahkan, bahwa pada saat guru menjadi pembina olah raga, maka soft skills yang perlu dikembangkan adalah sportifitas, keberanian untuk kalah, keberanian untuk menang dan semangat juang yang membara. Seringkali, hard skillsnya dalam teknik shooting (untuk basket ball), atau menendang dan bertahan (untuk sepak bola) yang selalu kita perhatikan. Namun, ketika menerima kekalahan, bukan introspeksi diri yang pertama dilakukan, tetapi mungkin malah menyalahkan cara kerja wasit, atau kecurangan yang dilakukan oleh lawan. Hal-hal demikian akan banyak digali dalam kegiatan pembinaan kesiswaan.  

Penguatan Karakter dan Pengembangan soft skills siswa didik dapat juga didesain dalam proses pembelajaran yang dilakukan melalui kegiatan belajar melalui tatap muka di dalam kelas maupun praktek di laboratorium atau lapangan. Hal ini memerlukan kreatifitas guru yang mengampu mata pelajaran dan kompetensi yang diharapkan dari pembelajaran mata pelajaran yang diampu tersebut. Penguatan Karakter dan Pengembangan soft skills tidak semata-mata harus dilakukan tanpa adanya pernyataan yang jelas tentang kompetensi yang ingin dicapai. Jika dalam pernyataan kompetensi secara aksplisit dinyatakan perlunya atribut karakter dan soft skills tertentu, maka mau tidak mau metoda pembelajaran harus diarahkan pada pencapaian kompetensi yang diharapkan tersebut. Pada prinsipnya pembelajaran berbasis soft skills tidak harus apabila Penguatan Karakter dan Pengembangan soft skills akan dilakukan melalui implementasi kurikulum, maka ia tidak akan menjadi satu mata pelajaran/kuliah tersendiri, melainkan menjadi hidden curriculum ”Hidden Curriculum is the broader concept of which the informal curriculum is a part”. Pelajaran dari kurikulum tersembunyi diajarkan secara implisit. Kurikulum tersembunyi lebih ampuh karena dapat membuat proses pembelajaran lebih menarik minat dan menyenangkan. Pendidikan berbasis soft skills diharapkan menjadi alat/model untuk mengembalikan karakter pendidikan yang menekankan pada aspek moral dan martabat yang akhir-akhir ini hilang.

 

Penutup

Pembangunan pendidikan nasional saat ini dan ke depan harus lebih menekankan pada pendidikan transformatif seperti halnya Penguatan Karakter dan Pengembangan soft skills pada diri siswa didik, yaitu menjadikan pendidikan sebagai motor penggerak masyarakat berkembang menuju masyarakat maju. Pembentukan masyarakat maju selalu diikuti oleh proses transformasi struktural yang menandai suatu perubahan masyarakat yang potensi kemanusiaannya kurang berkembang menuju masyarakat maju dan berkembang yang mengaktualisasikan potensi kemanusiaannya secara optimal. Bahkan pada era global dan revolusi industri 5.0 saat ini, transformasi berjalan dengan sangat cepat yang mengantarkan masyarakat dunia pada kondisi masyarakat berbasis pengetahuan.

 

                         ** Kepala SMK Negeri 1 Kota Bima**

 

0Shares
Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-8902779777952560, DIRECT, f08c47fec0942fa0