Pemuda Cabuli 30 Santri Di Pondok Persantren

Bin News, Seorang pemuda yang dianggap santri senior mencabuli 30 Santri di Pondok Pesantren Di Taraka Utara, Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara.

Ialah RD (22)  yang leluasa berada di Pondok Pesantren tersebut, meskipun namanya tidak terdaftar sebagai santri disana.

RD pun semakin leluasa mencari mangsa karena diizinkan tinggal di sana.

RD disebut tak pernah absen beribadah di masjid pesantren.

Bahkan dia aktif dalam pengajian dan taklim yang digelar pesantren.

Kapolres Tarakan AKBP Taufik Nurmandia, melalui Kapolsek Tarakan Utara AKP Kistaya mengungkapkan santri korban Pelecehan Seksual tersebut masih dalam usia remaja.

Yakni berusia antara 12 sampai 15 tahun.

Kistaya mengungkapkan bahwa aksi keji RD ini telah berlangsung sejak 2016.

Para korban mengaku tak berani melawan karena menganggap RD sebagai santri senior.

Dikatakan Kistaya, para korban mendapat perlakuan Asusial RD di tengah malam, saat mereka terlelap tidur.

 

Penulis  Rafikurrahman

Editor   AW

Terekam CCTV Masjid

Peristiwa tersebut terbongkar saat ada santri yang memberanikan diri pulang dan melapor pada orangtuanya.

Menanggapi pernyataan mengejutkan dari sang anak, orangtua santri kemudian melakukan konfirmasi ke pihak pesantren.

Alhasil, mereka mendapati ada 4 santri lain yang juga mengaku menerima pelecehan seksual oleh RD.

Kemudian, kelima santri dan orangtuanya membuat laporan terhadap RD ke Polsek Tarakan.

Lokasi Perbuatan Asusila

Kistaya menjelaskan bahwa RD melancarkan aksi kejinya di asrama santri, juga di dalam masjid.

Saat jam tidur, RD melakukan aksi tak terpuji nya di tengah kumpulan santri yang terlelap tidur.

Sehingga yang sadar hanya korban.

Pihak pesantren kemudian mengecek rekaman CCTV masjid yang baru dipasang beberapa hari, untuk memantau aktivitas para santri.

Dalam visual CCTV, nampak RD melakukan pelecehan seksual terhadap korbannya, persis seperti yang dideskripsikan para korban.

Atas perbuatannya tersebut, RD terancam Pasal 82 ayat (1) jo Pasal 76 E tentang Perlindungan Anak.

Setelah mendapat laporan dari lima orang tersebut, polisi pun menginterogasi RD.

Dalam interogasi Polisi, RD mengakui semua perbuatannya.

Ia melakukan hal tersebut semata mata ingin melampiaskan nafsunya yang dinilai Kistaya sebagai penyimpangan seksual.

Sejauh ini, Polisi sudah meminta psikolog untuk memeriksa kejiwaan RD.

Termasuk mendalami orientasi seksualnya.

Namun, melalui pernyataan RD, ia mengaku menyukai perempuan, namun tidak memiliki nafsu keberanian terhadap perempuan.

 

Penulis  Rafikurahman

Editor  AW

0Shares
Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-8902779777952560, DIRECT, f08c47fec0942fa0