Obrolan Santai Dr.M Firmansyah Bangun Daerah Butuh Perencanaan Bukan “Merencanakan Kegagalan “

BIN News. Suasana malam di Kafe Tuwa Kawa cocok tuk ngobrol-ngobrol. Satu pasukan (istri dan anak-anak) saya ajak serta. Mereka makan dan minum makanan cita rasa kekinian. Lidah saya kurang cocok. Saya dah mulai cocok minum-minum hangat, seperti jahe, kopi dan sejenisnya.

Mereka duduk di semacam ruang private. Saya tinggalkan mereka di sana. Sambil santap makan dan minum. Saya ada janji dengan mbak Sri, Katanya Ada umi ida pengusaha jakarta, bang Mansur lawyer kaliber nasional di Jakarta. Mereka ajak ngobrol-ngobrol.

Ternyata dialog jadi model podcast. Dipandu Bang Jamal dan . Dihadiri sahabat-sahabat saya juga. Seperti bang Dr. Raihan dan bang Rauf. Anggota DPRD NTB serta bang Jack (Muzakir) mantan birokrat ulung

Tema diskusi seperti biasa membangun daerah. Daerah yang dimaksud Bima. Saya tidak akan bahas lagi ditulisan ini. Karena sudah sering.

Saya ingin dudukan posisi teori dan praktek dalam bangun daerah. Kita mungkin pernah dengar pernyataan. Atau mungkin sering. “Itukan teori, namun prakteknya…bla..bla”.

Teori atau konsep dianggap hanya omongan saja. Tidak nyata. Kalau awal-awal muncul ilmu pengetahuan mungkin iya. Tapi saat ini umumnya teori atau konsep berangkat dari kajian empiris dan dipublikasikan. Artinya sudah dipraktekan. Ditempat lain.

Bila tidak sesuai di tempat kita jadi pertanyaan. Kenapa tidak sesuai. Kok bisa beda. Disitu perlu didalami lebih jauh. Alhamdullilah karena cukup lama jadi tim ahli di pemda jadi rada-rada tahu implementasi lapangan dan teks booknya.

Bila ingin bangun daerah boleh-boleh Saja langsung aksi. Bangun ini, bangun itu. Oleh siapa saja. Perorangan atau swasta. Namun bangun daerah butuh perencanaan. Desain perencanaan butuh teori, konsep sehingga yang dibangun meluas. Pun awet.

Bangun tanpa rencana. Berati bangun secara sempit. Bahkan boleh dikata “merencanakan kegagalan”. Khawatir tidak tahan lama. Gimana mau bangun kawasan ekonomi yang luas dan kompleks tanpa rencana. Tanpa konsep. Tanpa teori. Ingat teori yang dimaksud adalah hasil studi ilmiah, empiris yang diramu kembali sebagai teori. Bukan hanya omongan tanpa dasar.

Sebagai pebisnis-pun tentu punya rencana yang detail. Buka cabang A, buka bisnis baru targetnya apa, desainnya gimana, bisnis plannya seperti apa, BEPnya kapan, NPVnya gimana. Semua butuh konsep. Apalagi bangun ekonomi daerah yang rumit dan kompleks.

Sahabat saya Dr Raihan dan Bang Rauf di DPRD NTB juga paham. Bila mau buat Perda perlu yang namanya naskah akademik. Supaya tau betul, konsep dan teori sebelum buat aturan.

Saya konsisten bicara bangun daerah seputar Datangkan orang dan modal. Bangun produk, SDM, industri dan kawasan industri. Industrialisasi subtitusi impor dan lain-lain. Semua sudah dijalankan. Di tempat lain. Kalau kita belum, perlu disesuaikan. Dibuatkan sesuai pola kita. Namun sesuai kebutuhan pasar.

Jam menunjukan pukul 12 malam. Mata sudah berasa 2 watt. Saya undur diri ke teman-teman. Tuk segera pulang dan tidur. Kafe Tuwa Kawa memberi ruang pemaknaan mendalam. Sedalam cita rasa kopi madu kesukaan saya di sana.

 

Penulis IF

Editor. B-04

0Shares
Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-8902779777952560, DIRECT, f08c47fec0942fa0